Rumahku
hanya kecil saja, tapi begitu hebat dalam merangsang fantasiku. Tak
terhitung berapa banyak khayalan tentang keindahan kubayangkan hadir di
dalamnya. Dari berbagai imajinasi itu, yang paling sering menggoda
adalah sebuah taman bunga. Meski sadar bahwa keinginan tersebut muskil
adanya karena sisa tanah memang tak ada, tapi apa boleh buat?
Rumah
mewah dengan pekarangan nan luas menghampar, toh tetap tetangga yang
punya. Maka, dari tempat berteduhku yang mungil itu, berbagai keinginan
menyangkut harmoni, keasrian, kenyamanan, dan hasrat artistik akhirnya
seperti kutumpuk begitu rupa.
Aku sadar betul, betapa
terbatasnya lahan yang kumiliki. Tapi, jauh sebelum fondasi rumah mulai
dibangun, aku sebenarnya telah lebih dulu sibuk membayangkan di mana
kira-kira bermacam bunga kesayanganku akan kutanam ketika rumah
kutempati nanti.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, kusisakan
sebagian tanah di bagian belakang rumah untuk tetap kubiarkan terbuka.
Biar sinar masuk, ada rintik gerimis, angin segar, dan aku bisa menanam
bunga.
Aku mencintai bunga dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.
Bukan bunga nama samaran, atau mencintainya dengan sejenis cinta
musiman. Gampang pudar dan gampang kulupakan. Meski berkali-kali kecewa
karena acap bertemu kepalsuan dan dikhianati para pejual bunga, aku tak
kehilangan asa. Bunga-bunga tetap kurawat dan terus kusirami.
Ketika
sedang berlibur ke daerah pegunungan yang sejuk, pasti kusediakan sesi
khusus untuk mencari bunga. Dan aku pasti terpesona pada
anggrek-anggrek yang tangkainya dikerubuti kelopak segar yang sedang
mekar. Sangat kontras dengan penjualnya, ibu-ibu tua yang raut wajahnya
dipenuhi keriput. Si ibu memancing rasa kasihan, sementara anggrek itu
tampak begitu cantik dan memikatnya.
Tapi, apa yang terjadi
setelah anggrek kubeli dan kubawa pulang ke rumah? Sehari berada di
taman rumahku, anggrek menjadi layu. Daun-daunnya melorot tak
bertenaga, batangnya lunglai seperti kehilangan gairah hidup. Karena
perbedaan suhu? Mungkin. Tapi, mestinya anggrek tidaklah secengeng itu.
Lalu, kenapa ia layu seperti pasien gawat darurat yang dicabut selang
infusnya?
Karena penasaran, anggrek itu kucabik-cabik hingga ke
pangkalnya. Astaga! Tahulah aku sekarang mengapa anggrek tersebut tak
sanggup hidup di taman rumahku. Ia ternyata cuma bunga palsu. Umur
kecantikannya hanya beberapa saat saja. Ia hanya setangkai anggrek yang
dipotong, lalu di pangkalnya ditaruh segumpal tanah, kemudian dibungkus
dengan pelepah pisang, terus diikat tali. Sejatinya, ia tak punya akar
untuk menghidupi dirinya.
Oh, ibu tua yang mengharukanku. Engkau telah tega mengkhianatiku…
Di
pasar bunga dadakan, aku menemukan aglaonema yang daunnya kecil-kecil,
lain dari biasanya. Terlihat lucu dan agak aneh. Namun, setelah
beberapa lama bunga itu kupelihara di rumah, daun baru pun tumbuh. Yang
mengherankan, daun barunya tidak lagi kecil-kecil, tapi gede seperti
daun aglaonema umumnya.
Usut-punya usut, aku ternyata
terperangkap siasat buruk penjual bunga. Daun aglaonema itu diperkecil
dulu dengan cara diguntingi satu per satu sebelum dijual. Ampun, deh…
Tertipu
akar palsu, daun palsu, bunga palsu pun pernah. Barangkali memang
begitulah risiko jatuh cinta. Tak selamanya ketulusan bakal berbalas
kejujuran. Suatu kali, juga di daerah wisata, aku bertemu bunga lily
yang dalam satu tangkainya mekar dua warna bunga. "Lily dwiwarna," kata
penjualnya.
Bunga lily kubeli tanpa kutawar, karena menurutku
memang sudah murah harganya. Karena begitu indahnya, ketika dalam
perjalanan pulang menuju rumah, bunga itu tak henti-hentinya aku
pandangi. Betapa kagetnya setelah bunga yang sedang mekar itu coba
kutarik dari tangkainya. Ia ternyata cuma bunga tempelan yang
ditancapkan dengan tusuk gigi ke batang lily…
Sebulan lalu,
aku kecewa berat dengan bunga Desember. Bunga yang daunnya menyerupai
miniatur daun pisang tersebut kubeli kira-kira sepuluh bulan lalu
dengan harga Rp 20 ribu dari penjual bunga langgananku. Menurut
penjualnya, kalau sedang berbunga, bunga Desember akan memunculkan
mekar seperti kembang api. Tapi, itu hanya setahun sekali, yaitu pada
bulan Desember.
Bulan demi bulan berlalu dengan penantian,
hingga tibalah bulan Desember yang kutunggu-tungu. Tapi, sampai habis
bulan Desember, bunga itu tak kunjung mengeluarkan bunga. Karena kesal,
penjual bunga kulabrak. Tapi, apa kata penjual bunga tersebut, "sabar
Pak, cobalah tunggu bulan Desember mendatang."
Ohoi, betapa berat ujian kesabaran akan cintaku padamu hai bunga…
Memang,
cuma kecil saja taman bungaku. Tapi, aku begitu betah berlama-lama bila
sedang di tengahnya. Saat sepi, kupandangi sisi-sisi dinding tembok
yang kutempeli aneka jenis bunga gantung. Ada sirih-sirihan, bunga
happy, simbar menjangan, bunga tetes air mata, kerokot hijau, anggrek
bulan, dan lain-lain. Kini, seluruh dinding tembok pojok belakang
rumahku penuh oleh juntai aneka bunga. Aku menjadi tidak begitu hirau
bahwa rumahku sebenarnya hanya mungil dan tamanku sempit adanya.
Mengangankan
yang serbamewah, megah, luas, besar, tentu tidak dilarang. Tapi,
hati-hatilah, salah-salah bisa seperti para pejabat Bank Indonesia yang
kini menjadi para tersangka itu. Kaya raya, rumah gede, duit banyak,
tapi harus tinggal dalam ruang tahanan berjeruji yang sempit dan
pengap. Tanpa taman bunga lagi! Betapa penting mencintai hal-hal kecil
yang telah kita miliki.
( dinukil dari LEAK KOESTIYA )

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus